FP UTM Akan Dampingi SDI Al-Mashduqie Menuju Sekolah Adiwiyata

Kembali, FP UTM berhasil menorehkan prestasi dalam perolehan dana hibah pengabdian kepada masyarakat dari DRTPM Ditjen Dikti. Salah satu usulan yang didanai adalah program pengabdian masyarakat mono tahun dengan skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat yang diusulkan oleh Amanatuz Zuhriyah (Prodi Agribisnis), Mustika Tripatmasari (Prodi Agroekoteknologi), dan Haryo Triajie (Prodi Manajemen Sumberdaya Perairan). Program ini mengambil tema pendampingan SDI Al-Mashduqie menuju sekolah adiwiyata berbasis pertanian berkelanjutan.

Pemilihan SDI Al-Mashduqie sebagai mitra merupakan salah satu bentuk tanggung jawab moral UTM. Lokasi mitra yang hanya berjarak selemparan batu dari kampus sudah seharusnya menjadi perhatian. Permasalahan yang dihadapi oleh mitra perlu untuk diatasi secara kolaboratif.

Gagasan awal program ini adalah dari keprihatinan tim pengusul atas permasalahan lingkungan. Terlebih, hasil riset salah satu tim pengusul menunjukkan temuan tentang gejala kerusakan dan pencemaran lingkungan, khususnya di wilayah perairann. Haryo Triajie, dalam beberapa publikasinya menemukan bahwa kandungan mikroplastik di wilayah perairan Madura sudah dalam tahap yang mengkhawatirkan. Ada banyak langkah yang bisa diambil, salah satunya adalah melalui pendidikan lingkungan hidup sejak dini.

Keprihatinan ini disambut dengan baik oleh anggota lainnya, hingga kemudian didapatkan mitra yaitu lembaga pendidikan dasar yang belum mempunyai program pendidikan lingkungan hidup. Akhirnya disusunlah proposal pengabdian kepada masyarakat yang saat ini lolos mendapatkan dana hibah.

Adiwiyata sendiri merupakan ajang bergengsi bagi satuan pendidikan. Oleh karenanya sangatlah tepat FP UTM berkolaborasi dengan SDI Al-Mashduqie untuk mempersiapkan menuju sekolah adiwiyata. Pertanian berkelanjutan diambil sebagai tema dikarenakan pengusul berasal dari FP UTM. Nantinya akan dilaksanakan kegiatan pendampingan dokumen menuju adiwiyata, penyusunan site plan zonasi sekolah berbasis lingkungan hidup, dan pelatihan serta fasilitasi media pembelajaran lingkungan hidup. “Kami menetapkan hidroponik dan lele bioflok sebagai media pembelajaran. Keduanya kemudian kami padukan dengan pembangkit listrik tenaga surya untuk kebutuhan energi listriknya”, terang Amanatuz Zuhriyah, ketua tim pengusul. Kegiatan ini juga disambut dengan baik oleh Dr. K.H. Ahmad Agus Ramdlani, selaku ketua yayasan. Kolaborasi dengan UTM baginya adalah sebuah keharusan. Ada ikatan moral yang kuat antara Yayasan Al-Mashduqie. Terlebih Dr. K.H. Ahmad Agus Ramdlani sendiri adalah dosen FH UTM. “Kami sangat berterima kasih telah digandeng oleh UTM, khususnya FP. Mari bersinergi, bertolong menolong dalam hal kebaikan”, pungkasnya.

Leave a Reply