FP UTM inisiasi kolaborasi riset perhutanan sosial dengan beberapa PT di Jatim

Semangat kolaborasi menjadi salah satu isu yang diusung oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DRTPM), Ditjen Dikti. Tidak mengherankan jika DRTPM membuat beberapa skim penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang mensyaratkan kolaborasi lintas klaster PT. Sebagai salah satu PT yang masuk dalam klaster utama, UTM memiliki peran untuk menggandeng PT lain yang masuk dalam klaster madya maupun pratama. Salah satu skim penelitian yang mensyaratkan adanya kolaborasi lintas klaster PT adalah Penelitian Kerjasama Dalam Negeri (PKDN).

Pada tahun 2023 ini, sebanyak 13 proposal penelitian baru (tahun pertama) dari UTM berhasil mendapatkan hibah pendanaan dari DRTPM. Sebanyak lima proposal diusulkan oleh dosen FP UTM.

Salah satu proposal penelitian yang lolos pendanaan mengambil tema perhutanan sosial. Perhutanan sosial merupakan salah satu bentuk pengelolaan hutan berbasis masyarakat atau dikenal dengan Community Based Forest Management (CBFM). Slamet Widodo, ketua tim penelitian, menyatakan bahwa perhutanan sosial merupakan implementasi dari reforma agraria. Ketimpangan pemilikan lahan yang terjadi selama ini perlu diatasi dengan serius oleh pemerintah. Reforma agraria juga tidak hanya dipahami sebagai bagi-bagi tanah, namun dapat berupa jaminan hak akses masyarakat atas sumber daya, termasuk salah satunya adalah hutan. Terdapat lima skema dalam perhutanan sosial, yaitu hutan desa, hutan kemasyarakatan, hutan tanaman rakyat, hutan adat, dan kemitraan kehutanan. “Perhutanan sosial memberikan kepastian akses masyarakat terhadap hutan. Ini penting bagi keberlanjutan penghidupan mereka. Namun tak kalah pentingnya juga peran masyarakat dalam konservasi hutan”, jelasnya.

Tim penelitian ini terdiri dari Slamet Widodo, Amanatuz Zuhriyah (UTM), Purbowo (Universitas K.H. Wahab Hasbullah, Jombang), dan Yuhanin Zamrodah (Universitas Islam Balitar, Blitar). Kolaborasi ini diharapkan akan memberi ruang untuk saling belajar dan meningkatkan kapasitas penelitian serta publikasi ilmiah. “Suatu kebanggan sendiri dapat bergabung dalam penelitian ini. Ini adalah kesempatan untuk mengembangkan kapasitas penelitian. Terlebih sebagai alumni Prodi Agribisnis UTM, ada rasa bangga dapat bekerjasama dengan almamater tercinta”, terang Purbowo, salah satu anggota tim penelitian yang juga alumni UTM. Sedangkan Yuhanin Zamrodah menyatakan bahwa keterlibatan dalam penelitian ini diharapkan akan memberikan payung penelitian bagi mahasiswa, terlebih Blitar termasuk dalam lokasi penelitian. Selain itu akan menjadi bagian integral dari MBKM. “Kolaborasi riset ini dipastikan akan menjadi awal yang baik dalam implementasi MBKM”, ujarnya.

Jawa Timur dipilih sebagai lokasi penelitian dikarenakan capaian perhutanan sosial di Jatim mencapai 53% dari seluruh area perhutanan sosial di Pulau Jawa. Selain itu, sebanyak 66% penerima manfaat perhutanan sosial di Pulau Jawa berada di Jawa Timur. Terdapat empat kabupaten yang diambil sebagai kasus dalam penelitian ini, yaitu Bojonegoro, Ngawi, Blitar, dan Banyuwangi. Harapannya penelitian ini akan dapat menghasilkan model perhutanan sosial yang mampu memberikan jaminan nafkah berkelanjutan, resolusi konflik tenurial, dan upaya konservasi. Masyarakat sejahtera, hutan tetap terjaga.

Leave a Reply