UTM WUJUDKAN PERTANIAN MADURA BERKELANJUTAN MELALUI  PUPUK BIOSLURRY RAMAH LINGKUNGAN

Fakultas Pertanian, Universitas Trunojoyo Madura melalui program Pengabdian Kemitraan Masyarakat (PKM) dengan judul “Pemberdayaan Kelompok Tani melalui Produksi hingga Pemasaran Pupuk Bioslurry dari Biogas Sistema untuk Kesejahteraan Berkelanjutan di Dusun Gunung Tangis, Madura” dengan ketua pelaksana Sri Ratna Triyasari, SP., MP. beranggotakan Choirul Umam, S.TP., M.T. dan Nurul Hidayati, S.Si., M.Si. dari Universitas Madura. Program didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Desa Rek Kerrek merupakan salah satu dari 10 desa penerima program Biogas Sistema hasil kerja sama antara PT. Biru Karbon Nusantara, Sistema.Bio, dan Universitas Trunojoyo Madura sebagai pilot project nasional. Melalui program ini, kegiatan difokuskan pada peningkatan keberdayaan mitra melalui penguatan kapasitas produksi. Mitra diharapkan mampu memahami manfaat serta teknik aplikasi pupuk bioslurry cair pada komoditas yang ditanam, meningkatkan kemampuan dalam menjalankan usaha, serta menguasai langkah operasional dan perawatan biogas untuk menjamin keberlanjutan sistem.

“Harapan kami, kegiatan ini terus berlanjut sehingga manfaatnya bisa dirasakan seluruh warga desa,” kata Kepala Desa Gunung Tangis, Fadil, S.Sos.I.

Program ini juga mendapat dukungan dari Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Pamekasan, Indah Kurnia Sulistiorini, S.Pt., M.M. Ia menyatakan, “Inisiatif ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong pemanfaatan energi terbarukan di tingkat desa.”

Program ini mendukung SDGs 1, 2, 3, dan 7 dengan membuka sumber pendapatan baru melalui pupuk bioslurry, meningkatkan kesuburan tanah dan hasil panen, serta mengurangi pencemaran dan risiko penyakit. Selain itu, Biogas Sistema 40 sebagai Sistema terbesar menghadirkan energi bersih sebagai alternatif hemat pengganti kayu bakar dan LPG. Inisiatif ini menunjukkan bahwa pengelolaan limbah ternak tidak lagi menjadi beban, melainkan peluang emas untuk menciptakan kesejahteraan dan keberlanjutan. Dengan langkah sederhana namun berdampak luas, masyarakat desa telah membuktikan kemampuan mereka dalam memberikan kontribusi nyata bagi tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan. Harapannya, program ini dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain untuk terus berinovasi dan berdaya menuju masa depan yang lebih hijau, sehat, dan sejahtera.

Leave a Reply