PENELITIAN MAHASISWA AGRIBISNIS UTM, UNGKAP KARAKTERISTIK PETANI JAGUNG LAHAN KERING DI SUMENEP, MAYORITAS MASIH HADAPI TANTANGAN PRODUKTIVITAS

Bangkalan, Madura – Tim peneliti dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mengungkap sejumlah fakta menarik mengenai karakteristik petani jagung lahan kering di Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Penelitian yang melibatkan 100 petani jagung ini menunjukkan bahwa meskipun jagung menjadi salah satu komoditas strategis bagi perekonomian masyarakat pedesaan, pengelolaan usaha taninya masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait produktivitas, penggunaan sarana produksi, tingkat pendidikan, dan penguatan kelembagaan petani.

Penelitian tersebut dilakukan oleh tim yang terdiri atas Elys Fauziyah, Mahbub Robbi Azizy, Riswatillana Dewi, Suniko Reza Romadhon, dan Dinta Alena Nayna Tamana Putri.

Kajian ini menjadi penting mengingat jagung merupakan salah satu komoditas pangan strategis yang memiliki peran besar dalam mendukung ketahanan pangan, penyediaan bahan baku pakan ternak, sekaligus menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat pertanian di Pulau Madura.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 yang dikutip dalam penelitian tersebut, Jawa Timur merupakan salah satu sentra produksi jagung terbesar di Indonesia, dengan produksi mencapai sekitar 4,60 juta ton pada tahun 2024.

Di Kabupaten Sumenep, khususnya Kecamatan Bluto, jagung banyak dibudidayakan pada lahan kering yang memiliki karakteristik keterbatasan ketersediaan air, ketergantungan terhadap curah hujan, serta risiko ketidakpastian iklim. Kondisi tersebut menuntut petani untuk mampu mengelola sumber daya produksi secara efisien agar usaha tani tetap produktif dan berkelanjutan.

Mayoritas Petani Berusia Produktif, tetapi Tingkat Pendidikan Masih Relatif Rendah

Salah satu temuan menarik dalam penelitian ini adalah struktur usia petani jagung yang didominasi kelompok usia produktif. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebanyak 86 persen responden berada pada rentang usia 15–64 tahun, sedangkan 14 persen lainnya berada di luar kelompok usia produktif tersebut.

Dominasi petani usia produktif menjadi modal sosial dan ekonomi yang penting bagi pengembangan pertanian jagung di Kecamatan Bluto. Kelompok usia ini secara umum memiliki potensi tenaga kerja yang besar serta peluang untuk mengadopsi inovasi teknologi pertanian.

Namun demikian, potensi tersebut belum sepenuhnya didukung oleh tingkat pendidikan formal yang memadai. Penelitian menemukan bahwa sebanyak 42 persen petani memiliki pendidikan terakhir sekolah dasar (SD), 23 persen berpendidikan sekolah menengah pertama (SMP), 30 persen sekolah menengah atas (SMA), 3 persen sarjana, dan 2 persen tidak menyelesaikan pendidikan dasar.

Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa tingkat pendidikan petani masih didominasi pendidikan dasar. Kondisi ini menjadi perhatian penting karena pendidikan berperan dalam mendukung kemampuan petani mengakses informasi, memahami teknologi budidaya, melakukan pencatatan usaha tani, dan mengambil keputusan ekonomi secara lebih rasional.

Meskipun demikian, pendidikan formal bukan satu-satunya penentu kemampuan petani. Pengalaman bertani, pengetahuan lokal, kegiatan penyuluhan, dan pembelajaran antarsesama petani juga memiliki peran penting dalam meningkatkan keterampilan pengelolaan usaha tani. Oleh karena itu, pengembangan kapasitas petani melalui penyuluhan, pelatihan teknis, serta pendampingan berbasis kebutuhan lokal menjadi salah satu langkah strategis yang dapat dilakukan.

Sebagian Besar Petani Mengusahakan Lahan Sempit

Dari aspek penguasaan lahan, penelitian menunjukkan bahwa mayoritas petani jagung di Kecamatan Bluto mengelola lahan pertanian dengan luasan relatif kecil. Sebanyak 54 persen petani memiliki lahan kurang dari 0,5 hektare, sementara 36 persen mengusahakan lahan seluas 0,5–0,8 hektare. Hanya 10 persen petani yang memiliki lahan lebih dari 0,8 hektare.

Temuan tersebut menggambarkan bahwa usaha tani jagung di wilayah penelitian masih didominasi pertanian skala kecil. Keterbatasan luas lahan dapat menjadi tantangan tersendiri dalam meningkatkan produksi dan pendapatan petani. Pada skala usaha yang kecil, kemampuan petani untuk melakukan investasi teknologi, mekanisasi, maupun pembelian sarana produksi dalam jumlah ekonomis cenderung lebih terbatas.

Kondisi ini sekaligus menunjukkan pentingnya strategi peningkatan produktivitas lahan melalui penggunaan benih unggul yang sesuai dengan karakteristik agroekosistem, pemupukan berimbang, pengelolaan air, serta penerapan teknologi budidaya yang efisien. Selain itu, penguatan kerja sama antarpelaku usaha tani dapat menjadi alternatif untuk mengatasi keterbatasan skala usaha, terutama dalam pengadaan sarana produksi dan pemasaran hasil pertanian.

Penggunaan Benih dan Pupuk Perlu Mendapat Perhatian

Penelitian ini juga mengidentifikasi pola penggunaan sarana produksi oleh petani jagung, terutama benih dan pupuk. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan benih jagung oleh sebagian besar petani masih berada di bawah kisaran rekomendasi yang digunakan dalam penelitian, yaitu sekitar 25–35 kilogram per hektare.

Temuan tersebut memberikan indikasi adanya perbedaan antara praktik penggunaan benih di tingkat petani dengan acuan teknis yang digunakan peneliti. Namun, kebutuhan benih sesungguhnya juga dipengaruhi oleh varietas jagung, ukuran benih, jarak tanam, populasi tanaman yang ditargetkan, serta kondisi lahan. Oleh karena itu, evaluasi penggunaan benih perlu mempertimbangkan karakteristik teknis budidaya setempat.

Sementara itu, dari aspek pemupukan, penelitian menemukan adanya variasi penggunaan pupuk kandang, pupuk Phonska, dan pupuk urea. Variasi tersebut menunjukkan bahwa praktik pemupukan belum sepenuhnya seragam di antara petani. Perbedaan dosis pupuk dapat dipengaruhi oleh kemampuan ekonomi rumah tangga, akses terhadap sarana produksi, pengalaman budidaya, maupun persepsi petani mengenai kebutuhan nutrisi tanaman.

Dalam pertanian lahan kering, pemupukan yang tepat menjadi sangat penting karena keterbatasan air dapat memengaruhi kemampuan tanaman menyerap unsur hara. Karena itu, peningkatan efisiensi pemupukan perlu diarahkan pada prinsip tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, dan tepat cara, dengan mempertimbangkan kondisi kesuburan tanah serta kebutuhan tanaman.

Pendekatan tersebut tidak hanya berpotensi meningkatkan produktivitas, tetapi juga membantu petani mengendalikan biaya produksi dan mengurangi risiko penggunaan input yang tidak efisien.

Sebanyak 77 Persen Petani Menggunakan Herbisida Melebihi Acuan Rekomendasi

Temuan lain yang cukup menonjol berkaitan dengan penggunaan herbisida dalam pengelolaan tanaman jagung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 77 persen petani menggunakan herbisida dengan dosis lebih dari 2 liter, atau berada di atas kisaran rekomendasi 1–2 liter yang digunakan sebagai acuan penelitian.

Sementara itu, sebanyak 22 persen petani menggunakan herbisida sesuai kisaran rekomendasi, dan hanya 1 persen yang menggunakan dosis di bawah 1 liter.

Tingginya proporsi petani yang menggunakan herbisida melebihi acuan penelitian menjadi salah satu aspek penting yang perlu mendapatkan perhatian dalam pengembangan pertanian berkelanjutan.

Penggunaan herbisida yang tidak sesuai dengan ketentuan produk dan kebutuhan pengendalian gulma berpotensi meningkatkan biaya produksi, menimbulkan risiko kesehatan bagi pengguna, serta memberikan tekanan terhadap kualitas lingkungan.

Meski demikian, penilaian mengenai ketepatan dosis herbisida harus memperhatikan jenis bahan aktif, formulasi produk, luas lahan, sasaran gulma, dan petunjuk penggunaan pada label.

Temuan ini memperlihatkan pentingnya edukasi mengenai pengendalian gulma terpadu, termasuk pemilihan metode pengendalian yang efektif, aman, dan sesuai dengan kondisi pertanian lahan kering.

Produktivitas Jagung Masih Menjadi Tantangan Utama

Dari aspek kinerja produksi, penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar petani jagung di Kecamatan Bluto masih memiliki produktivitas di bawah angka rata-rata produktivitas jagung Jawa Timur yang digunakan sebagai pembanding.

Sebanyak 57 persen petani berada di bawah rata-rata produktivitas provinsi, 28 persen berada di atas rata-rata, sedangkan 15 persen memiliki produktivitas yang sama dengan angka pembanding tersebut.

Temuan ini memperlihatkan bahwa peningkatan produktivitas merupakan tantangan utama dalam pengembangan usaha tani jagung lahan kering di wilayah penelitian.

Kondisi produktivitas tersebut perlu dilihat dalam kaitannya dengan berbagai karakteristik petani dan praktik budidaya yang telah diidentifikasi.

Dominasi usaha tani berlahan sempit, variasi penggunaan input produksi, keterbatasan pendidikan formal, serta rendahnya partisipasi kelembagaan merupakan sejumlah kondisi yang relevan untuk dikaji lebih lanjut.

Namun, penelitian deskriptif ini belum dapat memastikan bahwa faktor-faktor tersebut merupakan penyebab langsung rendahnya produktivitas. Untuk mengidentifikasi pengaruh masing-masing faktor secara lebih mendalam, diperlukan analisis lanjutan menggunakan pendekatan ekonomi produksi atau ekonometrika.

Hasil Penelitian Menjadi Dasar Penguatan Pertanian Lahan Kering Madura

Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan gambaran bahwa pengembangan pertanian jagung lahan kering di Kecamatan Bluto tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan jumlah produksi.

Upaya peningkatan kesejahteraan petani perlu dilakukan melalui pendekatan yang lebih menyeluruh, mencakup peningkatan kapasitas sumber daya manusia, efisiensi penggunaan sarana produksi, penguatan kelembagaan, dan penerapan praktik pertanian berkelanjutan.

Dominasi petani usia produktif merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan untuk mempercepat transformasi pertanian. Namun, potensi tersebut perlu didukung melalui peningkatan pengetahuan, pendampingan teknologi, dan akses terhadap informasi usaha tani.

Pada saat yang sama, tingginya penggunaan herbisida di atas acuan rekomendasi dan rendahnya partisipasi kelompok tani memperlihatkan bahwa aspek teknis budidaya dan kelembagaan masih memerlukan perhatian serius.

Hasil penelitian ini juga dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah, penyuluh pertanian, perguruan tinggi, serta pemangku kepentingan lainnya dalam merancang program pemberdayaan petani yang lebih sesuai dengan kondisi riil masyarakat.

Melalui penelitian berbasis kondisi lapangan, Universitas Trunojoyo Madura diharapkan dapat terus berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan penyediaan rekomendasi bagi pembangunan pertanian, khususnya pada wilayah lahan kering Pulau Madura.

Leave a Reply