ANALISA MANAJEMEN RANTAI PASOK AGRIBISNIS TEMBAKAU SELOPURO BLITAR BAGI KESEJAHTERAAN PETANI LOKAL oleh Kuntoro Boga Andri

Jawa Timur memiliki berbagai jenis tembakau lokal. Dari hasil survey keragaaan tembakau di Jawa dan Madura diketahui di Propinsi ini terdapat sekitar 15 jenis tembakau. Kontribusi agribisnis tembakau lokal Selopuro di Blitar terhadap perekonomian dan manfaat sosial oleh pengusahaan tembakau baik kearah hulu (backward linkage) maupun kearah hilir (onward linkage) sangat besar. Meskipun sentra produksinya di Kecamatan Selopuro, namun areal pengembangan agribisnis tembakau ini telah berkembang sampai ke Kabupaten Malang, Kediri dan Tulungagung. Penelitian dilaksanakan selama bulan Agustus sampai dengan Desember 2009, melalui kegiatan survey lapang, diskusi kelompok (FGD), dan studi pustaka melalui dokumen yang diperoleh dari dinas terkait, pemerintah daerah dan industri tembakau lokal. Penelitian ini bertujuan untuk: (a) Mengidentifikasi manfaat secara ekonomi dan sosial bagi petani lokal, (b) Mengidentifikasi struktur pasar komoditas ini, (c) Identifikasi dan analisa mekanisme tataniaga komoditas yang telah berjalan, (d) Menentukan strategi dan kebijakan perbaikan tataniaga dan manajemen tembakau lokal ini. Hasil penelitian menunjukkan, terdapat masalah-masalah internal yang dihadapi dalam rantai pasok agribisnis tembakau Selopuro. Masalah internal dapat dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu di tingkat on-farm, off farm dan kelembagaan. Pengembangan agribisnis tembakau lokal ini harus terkendali dalam rangka menjaga stabilitas ekonomi perdesaan, sosial, dan memberikan lapangan pekerjaan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan hidup yang sehat dan memenuhi kebutuhan industry rokok dan konsumen tembakau. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan pemahaman: (a) Perlunya memperhatikan keseimbangan antara permintaan dan penyediaan (supply and demand) produk ini, (b) Agribisnis tembakau  yang efisien serta menjaga lingkungan hidup yang sehat (tanah, air, udara,flora dan fauna), (c) Menjaga kelangsungan pengusahaan tembakau dengan meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia, (d) Menerapkan Good Agricultural Practices (GAP) dan Good Manufactural Practices (GMP) dalam pengusahaan tembakau, (e) Menjaga kelangsungan agribisnis melalui kemitraan yang baik dengan lembaga-lembaga terkait baik pemerintah, perguruan tinggi maupun swasta.

Artikel selengkapnya: ANALISA MANAJEMEN RANTAI PASOK AGRIBISNIS TEMBAKAU SELOPURO BLITAR BAGI KESEJAHTERAAN PETANI LOKAL

15 Mei 2013Permalink

Comments are closed.