Archive for Juni, 2013

BAKTI BAHARI

BAKTI BAHARI MAHASISWA ILMU KELAUTAN BERSAMA PERTAMINA PHE WMO

Dalam rangka menyambut hari Bumi tanggal 22 April 2013, Himpunan Mahasiswa Ilmu Kelautan (HIMALA) Universitas Trunojoyo Madura melaksanakan kegiatan Bakti Bahari di sekitar Pulau Madura dimulai dari Kecamatan Sepuluh Kabupaten Bangkalan, dengan tema MANGROVEDURA: Mangrove for Madura. Tujuan Kegiatan ini adalah : (1) Menjadikan Pulau Madura Sebagai Lahan Rehabilitasi Mangrove di Jawa Timur dan sebagai wahana edukasi yang penuh keanekaragaman hayati dan biota. (2) Menjadikan  Kecamatan Sepuluh pada khususnya dan Madura pada umumnya sebagai Lahan Riset dan pengendalian lingkungan dalam upaya menghadapi climate change (perubahan iklim). (3) Menjadikan  Kecamatan Sepuluh pada khususnya dan Madura pada umumnya sebagai Lahan wisata baru yang dikelolah secara berkesinambungan. (4) Terbentuknya sinergitas diantara semua stakeholder untuk menjadikan sumber daya perairan sebagai sumber penghidupan yang layak dan berkelanjutan. bentuk kegiatan yang dilakukan (1) Penanaman Sepuluh Ribu Mangrove (peserta Mahasiswa, Dosen, masyarakat dan stakeholder pendukung), tanggal 22 April 2013 dan (2) Penyuluhan dengan masyarakat pesisir Kecamatan Sepuluh Kabupaten Bangkalan tentang pentingnya keberadaan hutan mangrove di wilayah pesisir tanggal 21 April 2013.

Hutan mangrove merupakan salah satu sumber daya alam yang mempunyai nilai dan arti yang sangat penting baik dari  segi fisik, biologi maupun sosial ekonomi. Akibat meningkatnya kebutuhan hidup, sebagian manusia telah mengintervensi ekosistem tersebut. Hal ini dapat terlihat dari adanya alih fungsi lahan mangrove menjadi tambak, permukiman, areal industri dan sebagainya. Selain itu manusia juga telah melakukan penebangan hutan mangrove yang mengakibatkan kerusakan dari ekosistem mangrove tersebut. Apabila keberadaan kawasan mangrove  tidak dapat dipertahankan lagi, maka abrasi pantai tidak dapat dielakkan lagi, pencemaran dari sungai ke laut akan meningkat karena tidak adanya filter polutan, dan zona budi daya  aquaculture akan terancam dengan sendirinya. Selain itu,  akibat berkurang dan rusaknya ekosistem mangrove adalah hilangnya berbagai spesies ikan dan fauna yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove, yang dalam jangka panjang akan mengganggu keseimbangan ekosistem mangrove khususnya dan ekosistem pesisir umumnya.

Kondisi mangrove di Madura Kabupaten Bangkalan luasnya hanya 1.513 Ha yang tersebar di 10 kecamatan, luas mangrove di Kabupaten Sampang mencapai 424,36 Ha yang tersebar di 7 kecamatan, Luas mangrove di Kabupaten Pamekasan mencapai 333,3 Ha yang tersebar di 6 kecamatan, sedangkan sebaran mangrove di Kabupaten Sumenep mencapai 578,64 Ha yang tersebar di 11 kecamatan.  Yang lebih menghawatirkan kondisi mangrove di wilayah Bangkalan 69,21% berada dalam kondisi kerapatan yang rendah dan hanya sekitar 30,79% berada pada keadaan kerapatan tinggi. Kerapatan yang tinggi menunjukkan bahwa hutan mangrove berada pada kondisi yang masih baik dan tidak mengalami pengrusakan. Dalam kondisi yang masih baik ini, tegakan mangrove dapat tumbuh hingga mencapai kondisi sebagai tegakan pohon (tinggi > 1,5 meter). Sedangkan hutan mangrove dengan kerapatan rendah merupakan indikasi bahwa kondisi nya tidak baik atau telah mengalami kerusakan. Kerapatan rendah juga dapat dijelaskan karena tingkat pertumbuhan mangrove yang masih dalam status anakan atau semai (Muhsoni dan Zainul, 2009).

Berkaitan dengan permasalahan diatas, maka usaha rehabilitasi laut melalui kegiatan rehabilitasi pesisir pantai sangat diperlukan dalam rangka meyelematkan Madura. Salah satu bentuk rehabilitasi pesisir pantai adalah reboisasi dan monitoring reboisasi mangrove dan menghindari pengrusakan wilayah pesisir oleh masyarakatnya sendiri. Pemerintah melalui PP No 27 tahun 1999 juga mewajibkan adanya studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) bagi setiap usaha dan atau kegiatan yang diperkirakan akan berdampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup.

Oleh karena itu sangat diperlukan adanya usaha perlindungan, pelestarian dan melalui perencanaan, implementasi dan evaluasi yang tepat sehingga manfaataanya terus bisa dinikmati, supaya tidak seperti yang diterangkan dalam pepatah Madura lanjhang ta’ kenneng kaghabay tale. Mengingat pemanfatan pantai dan hutan mangrove yang terus meningkat, terutama untuk usaha pertambakan dan pemukiman, maka perlu dipertahankan pelestarian jalur hijau pantai khususnya mangrove, sebagai tempat pembentukan ekosistem hutan mangrove dan tempat perkembangbiakan biota laut. Jalur pantai tersebut mempunyai fungsi mempertahankan lahan pantai yang telah ditetapkan peruntuknnya, agar fungsi dan kekhasan ekosistem dan yang ada didalamnya dapat terjaga dengan baik. Untuk itu pemberdayaan masyarakat pesisir sangat diperlukan demi lestarinya dan terawatnya hutan mangrove ini. (FFM)

Jadwal UAS Genap 2012/2013 Fakultas Pertanian

UAS Genap 2012/2013 dimulai tanggal 20 Juni 2013. Jadwal dapat dilihat di: http://goo.gl/gQOQr / http://goo.gl/EvB6G / http://goo.gl/273Vr

YUDISIUM KE- 39 FAKULTAS PERTANIAN UTM

YUDISIUM KE- 39 FAKULTAS PERTANIAN UNIVRTSITAS TRUNOJOYO MADURA

Pada hari Rabu, 12 Juni 2013 Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura mengadakan Yudisium yang ke-39. Yudisium ini diikuti oleh 6 orang mahasiswa, 1 orang dari jurusan Ilmu Kelautan dan 5 orang dari jurusan Teknologi Industri Pertanian. Daftar Lulusan Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura yang di yudisiuam pada Semester Genap Tahun Akademik 2012/2013 adalah :

No Nama NPM Prodi Predikat Kelulusan
1 EDI JUNAIDI 080331100054 Teknologi Industri Pertanian Sangat Memuaskan
2 NIA TAUFANY PUTRI 090331100015 Teknologi Industri Pertanian Sangat Memuaskan
3 PRASTI UTAMI 090331100017 Teknologi Industri Pertanian Sangat Memuaskan
4 IMRON SOHIBULLOH 090331100049 Teknologi Industri Pertanian Sangat Memuaskan
5 MUHAMMAD SABIQUN NAJAH 090331100056 Teknologi Industri Pertanian Sangat Memuaskan
6 ST. AISYAH 090341100019 Ilmu Kelautan Sangat Memuaskan

Yudisium ini dilakukan sudah terjadwal dan terencana tanpa menunggu jumlah mahasiswa yang lulu banyak dahulu. Hal ini agar mahasiswa yang mempunyai semangat tinggi untuk cepat luluk segera bisa mendapatkan gelar Sarjana tanpa menunggu waktu yang lama. (FFM)

( ket. gambar : proses Yudisium ke 39 Fakultas Pertanian UTM )