Archive for Januari, 2012

informasi pekerjaan

Tulisan UPAKARTI untuk Fakultas Pertanian

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PESISIR MELALUI PENGEMBANGAN IKM

Oleh: Dr. Mahfud Efendy

Pesisir memiliki peran penting dalam pembangunan nasional ditinjau geopolitik,  geostrategis, ekonomi maupun ketahanan nasional khususnya daerah perbatasan dengan unit terkecil adalah desa pesisir.  Menurut DKP (2006) wilayah pesisir tercatat berjumlah 8,090 desa yang tersebar di seluruh pulau besar maupun kecil. Di dalamnya terdapat sekitar 16 juta jiwa yang tersebar dalam berbagai pekerjaan: 4 juta nelayan, 2,6 juta pembudidaya ikan, dan lainnya sebanyak 9,7 juta. Ironisnya, diantara 16 juta jiwa tersebut, sekitar 5,2 juta tergolong miskin.

Isu kritis dalam pembangunan wilayah pesisir dapat dikelompokan ke dalam lima ranah: ekologi, sosial, ekonomi, agraria, dan geopolitik (Tridoyo, 2008). Pertama, resiko kerusakan ekologis baik yang bersifat alamiah (bencana alam= tsunami, gempa, banjir rob) maupun antropogenik (illegal fishing, pencemaran, abrasi dan kerusakan mangrove). Kedua, isu sosial terkait dengan struktur sosial, budaya, dan politik. Kondisi struktur sosial masyarakat  lebih menguntungkan patron (tengkulak). Ketiga, isu-isu ekonomi umumnya terkait tingginya angka kemiskinan di wilayah ini dan ketergantungan kehidupan ekonomi dari kondisi alam. Keempat, isu agraria yaitu ketimpangan pola kepemilikan dan penguasaan lahan. Isu yang sering muncul adalah tentang status lahan pemukiman, pola penguasaan areal pertambakan, pola penguasaan lahan untuk produksi garam, dan mangrove. Permasalahan utama dalam isu tersebut adalah siapa yang dominan dalam penguasaan lahan-lahan tersebut. Kelima, isu geopolitik dan geostrategis. Wilayah pesisir merupakan beranda terdepan suatu wilayah. Sehingga maju tidaknya suatu wilayah dapat dilihat dari kondisi wilayah pesisir. Secara nasional wilayah ini strategis keberadaannya baik dari aspek politik maupun ekonomi serta ketahanan bangsa.

Terkait isu-isu kritis tersebut, pendekatan pembangunan wilayah pesisir harus berlandaskan pada lima pilar. Pertama, penguatan kapasitas kelembagaan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir sendiri. Kedua, pengembangan enterpreneurship berbasis sumberdaya  lokal. Ketiga, komitmen keberpihakan pemerintah baik pusat maupun daerah terhadap terwujudunya masyarakat pesisir yang berdaya dan mandiri. Keempat, sinergi dan kerjasama dengan mendorong peran swasta dalam wadah kerjasama kemitraan yang menguntungkan. Kelima, pengelolaan sumberdaya alam secara berkelanjutan. Pada tataran praktis ekonomi, pemberdayaan masyarakat pesisir tersebut berlandaskan pada upaya pengembangan usaha berbasis komoditi lokal, dikelola secara partisipatif untuk kepentingan semua pihak. Agar sistem tersebut berjalan perlu dukungan dari stakeholder lainnya baik dari pemerintah maupun pihak lain (swasta).

  1. a. Pengembangan IKM Penggerak Ekonomi Daerah

Industri kecil menengah (IKM) merupakan bagian penting pendukung perekonomian nasional, karena peranannya dalam mempercepat pemerataan pertumbuhan ekonorni melalui misi penyediaan kesempatan usaha dan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat. Industri  dan ikut berperan berperan dalam meningkatkm perolehan devisa serta memperkokoh struktur lndustri nasional.Sebagai gambaran kuantitatif peran sektor IKM,  Pada tahun 2000, sumbangan nilai tambah IKM terhadap total nilai tambah sektor industri baru mencapai 14,3%, tetapi di lain pihak sumbangannya terhadap penciptaan lapangan kerja cukup signifikan, yaitu sebesar 64,6%.

Dalam upaya memberdayakan ekonomi kerakyatan, Kementerian perindustrian mendorong penuh pengembangan IKM dengan fokus pada sektor-sektor pilihan yaitu; (1) Kelompok IKM Penggerak Ekonomi Daerah, (2) Kelompok IKM Pendukung, (3) Kelompok IKM Berorientasi Ekspor, dan (4) Kelompok IKM Inisiatif Baru (Knowledge-based). IKM Penggerak Ekonomi Daerah adalah industri-industri yang mudah ditumbuh-kembangkan di suatu daerah, menimbulkan dampak penggairahan ekonomi daerah secara cepat dan melibatkan partisipasi masyarakat secara luas, sehingga dapat mempercepat peningkatan penghidupan/kesejahteraan sosial bagi masyarakat daerah yang bersangkutan. Ciri-ciri kelompok industri ini yaitu;

-          Kandungan bahan baku lokal yang tinggi dan mudah diperoleh di wilayah setempat

-          Penguasaan masyarakat terhadap teknologi produksi komoditi tersebut. Hal ini disebabkan masyarakat telah mengenal komoditi dan danteknologi produksinya baik disebabkan faktor talenta maupun pengetahuan lokal/tradisional sebelumnya. Faktor ini sangat penting karena mempermudah transfer/diseminasi teknologi.

-          Sebagian besar produknya terserap pasar lokal/domestik (kendala pemasaran minim)

-          Mempunyai potensi besar untuk dikembangkan sebagai potensi unggulan daerah

Potensi pasar dikembangkannya kelompok IKM ini sangat potensial dan terbuka lebar, meskipun di masing-masing daerah besarnya peluang bisa berbeda-beda. Hal ini disebabkan masih minimnya pengusaha/investor ataupun anggota masyarakat yang berminat  investasi untuk mengembangkan berbagai jenis industri- industri tersebut. Penyebab klasiknya adalah;

-          Rendahnya akses informasi tentang pasar

-          Belum berkembangnya semangat wirausaha (Sebagian besar masyarakat miskin pesisir berpencaharian sebagai nelayan, buruh/pekerja dengan penghasilan kecil)

-          Kondisi ekonomi masyarakat khususnya permodalan di daerah sangat terbatas, dan kemampuan mengakses permodalan belum relatif minim.

-          Tidak terbiasa mencari pinjaman uang untuk kepentingan produktif/investasi

Padahal fakta empiris seringkali menunjukkan bahwa seringkali image suatu daerah yang belum berkembang (karena lahannya tandus dan miskin sumberdaya alam), kadang dikemudian hari melalui eksplorasi lebih lanjut terkandung potensi sumberdaya yang besar tetapi belum dimanfaatkan secara optimal. Jika ada sentuhan teknologi dan investor, kondisi akan berbalik 180 derajat dari daerah non potensi sepi menjadi daerah buruan investor. Analisis mengenai kondisi spesifik setiap jenis industri/komoditi di setiap daerah ataupun lokasi sentra produksi masing-masing sangat penting dilakukan terlebih dulu dilakukan sebelum disusun strategi, langkah pengembangan, maupun program aksi yang akan dilakukan.

Pengembangan Produk/komoditi  Unggulan disuatu daerah berbasis IKM bertujuan untuk mengembangkan potensi sumberdaya lokal berbasis masyarakat sehingga dapat menjadi mata pencaharian yang menguntungkan dam memberikan sumbangan (share) bagi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Secara khusus tujuan lain yang ingin dicapai antara lain; (a) meningkatkan produktivitas dan mutu produksi komoditi unggulan (b) meningkatkan ketersediaan dan kualitas sarana produksi untuk menunjang pengembangan komoditi unggulan (c) mengembangkan kelembagaan usaha sehingga dapat menjadi pendorong pengembangan usaha dan peningkatan daya tawar pelaku usaha kecil menengah terhadap pihak lain (d) meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan pelaku usaha kecil/masyarakat miskin khususnya dan masyarakat di wilayah tertinggal/miskin (e) memacu proses pembangunan kawasan/wilayah tertinggal atau miskin melalui optimalisasi pemanfaatan potensi sumberdaya lokal yang berorientasi kepada perolehan nilai tambah yang berdampak positif bagi perekonomian daerah, dan (e) meningkatkan peran serta masyarakat dan memperluas lapangan usaha.

  1. b. Komoditi Unggulan Wilayah Pesisir

Sektor unggulan suatu daerah adalah sektor yang keberadaannya pada saat ini telah berperan besar kepada perkembangan perkonomian suatu wilayah, karena mempunyai keunggulan-keunggulan/kriteria. Selanjutnya faktor ini berkembang lebih lanjut melalui kegiatan investasi dan menjadi tumpuan kegiatan ekonomi. Hal ini didasarkan atas seberapa besar peranan sektor tersebut dalam perekonomian daerah. Penentuan komoditi unggulan bagi suatu daerah haruslah mengacu kepada kriteria- kriteria yang bisa menjadi motor penggerak pembangunan suatu daerah, diantaranya:

-            Komoditas unggulan harus mampu menjadi penggerak utama pembangunan perekonomian..

-            Komoditas unggulan mempunyai keterkaitan ke depan dan ke belakang yang kuat, baik sesama komoditas unggulan maupun komoditas lainnya.

-            Komoditas unggulan mampu bersaing dengan produk sejenis dari wilayah lain di pasar nasional dan pasar internasional, baik dalam harga produk, biaya produksi, kualitas pelayanan, maupun aspek-aspek lainnya.

-            Komoditas unggulan daerah memiliki keterkaitan dengan daerah lain, baik dalam hal pasar (konsumen) maupun pasokan bahan baku (jika bahan baku di daerah sendiri tidak mencukupi atau tidak tersedia sama sekali).

-            Komoditas unggulan memiliki status teknologi yang terus meningkat, terutama melalui inovasi teknologi.

-            Komoditas unggulan mampu menyerap tenaga kerja berkualitas secara optimal sesuai dengan skala produksinya.

-            Komoditas unggulan bisa bertahan dalam jangka waktu tertentu, mulai dari fase kelahiran, pertumbuhan, puncak hingga fase penurunan. Begitu komoditas unggulan yang satu memasuki tahap penurunan, maka komoditas unggulan lainnya harus mampu menggantikannya.

-            Komoditas unggulan tidak rentan terhadap gejolak eksternal dan internal.

-            Pengembangan komoditas unggulan harus mendapatkan berbagai bentuk dukungan, misalkan dukungan keamanan, sosial, budaya, informasi dan peluang pasar, kelembagaan, fasilitas insentif/disintensif, dan lain-lain.

-            Pengembangan komoditas unggulan berorientasi pada kelestarian sumber daya dan lingkungan

Mengacu kepada kriteria tersebut, Pemerintah Kabupaten Pamekasan telah menetapkan komoditi garam dan rumput laut sebagai komoditi unggulan di wilayah pesisir. Pemilihan komoditi garam sebagai komoditi unggulan didasarkan pertimbangan sebagai berikut:

-          Garam memiliki prospek pasar yang sangat menjanjikan

-          Kebutuhan (market demand) garam meningkat sepanjang tahun. Meningkatnya permintaan garam nasional disebabkan karena garam merupakan bahan baku industri dan bahan pangan bagi masyarakat Indonesia. Sebagian besar garam yang diproduksi di Indonesia di butuhkan untuk industri CAP (Industri Clor, Alkali Plan/CAP), rumah tangga dan industri pangan, farmasi dan perminyakan. Untuk memenuhi kebutuhan garam nasional yang besar maka dipenuhi dari produksi dalam di negeri dan impor.

-          Pulau Madura dikenal sebagai daerah penghasil dan pemasok garam terbesar di Indonesia. Kebutuhan garam nasional setiap tahun cukup besar dan hampir 70% atau sekitar 1 juta hingga 1,2 juta ton setiap tahun disuplai dari Propinsi Jawa Timur. Rata-rata produksi garam di Madura tidak kurang dari 600.000 ton dengan luas lahan 7.785 hektar.  Luas areal ini meliputi 1.767 hektar di Kabupaten Sumenep, 888 hektar di Pamekasan dan seluas 5.130 hektar di Kabupaten Sampang.

-          Lahan dan iklim di Kabupaten Pamekasan sangat mendukung bagi produksi garam berkualitas. Hal karena ditunjang tekstur tanah dan kondisi iklim yang sangat mendukung produksi garam berkualitas satu.

-          Sebagian besar wilayah sentra garam rakyat di Kabupaten Pamekasan merupakan wilayah kantong kemiskinan. Ketertinggalan wilayah tersebut baik dari SDM penduduk, sulitnya akses terhadap keuangan dan informasi, rusaknya fasilitas infrastruktur menyebabkan masyarakat di sentra garam berada dalam lingkaran ketidakberdayaan.

-          Usaha garam tergolong usaha padat karya (labour intensive) sehingga jika industri garam rakyat dikembangkan selain akan meningkatkan pendapatan petambak garam juga akan menimbulkan multiplier eefct berupa tersedianya banyak lapangan kerja dan mengurangi pengangguran di wilayah pesisir.

Sedangkan pemilihan rumput laut sebagai komoditi unggulan wilayah pesisir didasarkan alasan;

-        Memberikan keuntungan secara ekonomis (feasible)

-        Permintaan pasar (market demand) bagus/prospektif; prospek pasar rumput laut sangat besar dan Indonesia merupakan produsen rumput laut terbesar dunia.

-        Biaya produksinya rendah/dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat nelayan berpenghasilan rendah. Budidaya Rumput laut tidak memerlukan biaya pemeliharaan yang besar. Pengelolaannya harus ramah lingkungan; Budidaya rumput laut menuntut masyarakat sadar memelihara kelestarian lingkungan laut, karena rusaknya kualitas perairan laut akan menurunkan produksi rumput laut.

-        Masyarakat mengenal komoditi tersebut (untuk mempercepat ‘daya terima’ dan keterikatan masyarakat terhadap budiaya komoditi tersebut); masyarakat pesisir sudah mengenal rumput laut secara turun-temurun meskipun teknologi tradisional.

-        Tidak membutuhkan keterampilan/skill dan kualitas SDM tinggi untuk menjalankan usaha tersebut; Budidaya rumput laut tidak menuntut keterampilan khusus dan dapat dilakukan semua lapisan masyarakat dari segala tingkat pendidikan.

-        Dapat diusahakan sepanjang tahun (tidak tergantung musim); dengan masa produksi 45 hari, Budidaya rumput laut dapat dilakukan 6 kali setahun.

-        Bersifat padat karya (labour intensive): Usaha rumput laut menyerap banyak tenaga kerja terutama kegiatan sortasi bibit, pengikatan bibit, pemindahan bibit ke laut dan panen.

-        Melibatkan semua golongan masyarakat; budidaya rumput laut dapat dilakukan oleh semua kalangan baik tua-muda, laki-laki atau perempuan

Usaha pengembangan rumput laut dan garam selama ini dikembangkan di wilayah pesisir selatan kabupaten Pamekasan. Agar usaha garam dan rumput laut dapat berkembang maka arah Pengembangan industri rumput laut di Pesisir Kabupaten Pamekasan dilakukan dengan pendekatan berikut; (a) Pengembangan rumput laut dilakukan secara integratif dari hulu ke hilir. Pendekatan integratif dipakai agar komoditi ini memiliki nilai tambah tinggi dan minimalisasi resiko usaha. (b) Pendekatan bersifat partisipatif dengan melibatkan semua anggota masyarakat dan dikoordinasikan dalam suatu kelompok usaha (c) Pengembangan usaha memperhitungkan aspek ekologis, agar usaha tersebut dapat dijalankan secara berkelanjutan.

Pengembangan industri rumput laut secara integratif dilakukan melalui upaya penumbuhan (a) pengembangan pembibitan (b) pengembangan budidaya (d) pengembangan produk olahan berbasis rumput laut (d) pengembangan sarana pendukung (input produksi). Dengan kondisi pertumbuhan dan capaian industri rumput laut sekarang ini, maka arah pengembangan industri rumput laut kedepan yang sangat potensial untuk dikembangkan yaitu industri penepungan rumput laut dan industri olahan ( pangan, kesehatan) berbasis rumput laut. Usaha ini memerlukan invetasi yang lebih besar bari dari segi permodalan, teknologi maupun infrastruktur pendukungnya. Tetapi jika dikelola dengan baik nilai tambah ekonomisnya jauh lebih besar, minim resiko dan peluang pasar sangat menjanjikan.

Pengembangan industri garam rakyat mencakup upaya penumbuhkembangan usaha; (a) usaha produksi garam krosok (b) penumbuhan usaha pupuk aditif garam seperti ADIRAMA (aditif garam madura) maupun ramsol (c) usaha pemurnian garam melalui pencucian (d) usaha produksi garam konsumsi (d) usaha produk samping lain berbasis garam seperti; industri sari air laut (bittern), brom (e) usaha polikultur berbasis lahan tambak seperti bandeng, udang maupun rumput laut tambak. Upaya penumbuhkembangan usaha-usaha baru berbasis lahan tambak garam telah dirintis, diujicoba dan diseminasikan sejak awal 2009. Agenda kedepan pengembangannya adalah upaya menumbuhkan usaha tersebut pada skala industri (bisnis), Penguatan jaringan permodalan usaha dan penguatan jaringan kemitraan usaha.

  1. c. Strategi Pengembangan IKM  di wilayah pesisir

Secara umum upaya pengembangan industri kecil menengah di wilayah pesisir diperlukan strategi pemberdayaan dengan memperhatikan hal berikut:

-          Peningkatan pengetahuan dan pemahaman para pelaku usaha dalam pengmbilan keputusan usaha pada berbagai situasi (kondisi ada kepastian, kondisi ada resiko, kondisi ketidapastian dan kondisi konflik)

-          Peningkatan kemampuan mengenali lingkungan dan menciptakan peluang usaha yang efektif dan prospektif melalui suatu perencanaan bisnis (SDM, Produksi, Keuangan, Pemasaran dan tata kelola organisasi)

-          Menciptakan keunggulan dalam persaingan usaha dengan cara menekan biaya produksi, differensiasi produk dan meneukan relung pasar (nice market) yang kurang dimanfaatkan pesaing dan mengembangkan penguasaan informasi pasar (market intelligence).

-          Memilih dan menjalin kerjasama usaha melalui berbagai jalur kemitraan usaha baik yang permanen maupun sementara. Untuk arah kemitraan usaha yang dikembangkan bersifat backward (pemasok) dan forward linkage (penjual) secara serentak/terpadu.

-          Pengembangan kualitas SDM melalui pemberdayaan (empowerment) aspek profesionalisme usaha (pengetahuan, sikap dan etika bisnis), learning organization dan keterampilan komunikasi

-          Pengembangan kelembagaan usaha melalui pembinaan, diklat, pelatihan dan penguatan modal usaha kelompok

-          Pelestarian nilai-nilai, tradisi dan budaya lokal unggul melalui penyesuaian dengan aspek profesionalisme

-          Pengelolaan usaha secara berkelanjutan

Akhirnya sebagai suatu entitas bisnis secara luas, upaya pemberdayaan IKM di wilayah pesisir tidak akan sukses jika tidak ditunjang faktor pendukung. Kebijakan pemerintah daerah yang kondusif bagi usaha kecil dan amanah memegang komitmen sangat mendukung tumbuh kembangnya IKM. Peran sektor perbankan juga vital peranannya karena memberikan darah segar bagi penguatan permodalan usaha kelompok usaha. Sedangkan keinginan berinvestasi dan komintmen pihak swasta dalam mengembangkan kemitraan usaha dengan pelaku usaha kecil akan menentukan arah perkembangan sektor unggulan wilayah pesisir ini di masa mendatang.

Bagi Kabupaten Pamekasan Tahun 2011 merupakan tahun yang cukup cerah dalam pemberdayaan masyarakat dan usaha kecil di wilayah pesisir. Penghargaan nasional “Adibakti Mina Bahari” yang diserahkan kepada KUB Mitra Bahari Oleh Wapres Budiono Pada Tanggal 10 Desember 2011 di Dumai Riau merupakan bukti pengakuan pusat terhadap keberhasilan penumbuhkembangan kelompok usaha pesisir. Penghargaan  lain yang sangat prestisius yaitu  “Upakarti” yang diserahkan Presiden RI Pada tanggal 5 Januari 2012 di Istana Negara, merupakan bentuk pengakuan terhadap keberhasilan penumbuhan usaha kecil menengah di Kabupaten Pamekasan. Tentu saja keberhasilan-keberhasilan tersebut tidaklah datang dari upaya satu pihak semata. Komitmen, Kerjasama dan sinergi  yang baik berbagai pihak patut diapresiasi atas pencapaian ini.

Apresiasi yang sangat tinggi patut diberikan kepada pemerintah daerah terutama Bupati Dan Wakil Bupati dan jajarannya yang kuat kepeduliannya terhadap pembangunan wilayah pesisir. Penghargaan yang tinggi patut disampaikan kepada Bank BRI Pamekasan yang memberikan kepercayaan dan dukungan permodalan usaha terhadap kelompok-kelompok usaha di wilayah pesisir. Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang diluncurkan BRI ke kelompok-kelompok usaha selama ini amat membantu kesulitan pelaku usaha dalam akses permodalan. Kedepan komitmen dan dukungan berbagai pihak sangat diharapkan lebih kuat dan positif. Penghargaan bukanlah tujuan akhir, tetapi pemacu semangat dan ikhtiar kita semua dalam upaya mewujudkan masyarakat yang lebih makmur, mandiri dan sejahtera.